Senin, 25 Februari, Pk. 04.00 pagi di kamar kelas 2 di sebuah RS di dekat rumah gue.
“Kamu gimana rasanya? Lemas? Pusing?”, tanya seorang dokter jaga.
“Biasa aja sih. Agak lemas dan pusing. Sama kaya tadi”, jawab gue santai.
“Pakein infus Ge**** nih! Guyur 15 menit!”, perintah dokter tadi ke seorang suster, yang langsung direspon dengan baik. Beberapa menit kemudian, sudah ada dua infus yang dihubungkan oleh selang dan menembus pembuluh darah vena di punggung tangan kiri gue. Setelah infus baru ini masuk, gue merasakan sensasi dingin di seluruh lengan kiri gue mulai dari pergelangan hingga ke siku. Mungkin ini efek dari instruksi “guyur” tadi. Memang cairan yang menetes dari infus baru ini mengalir deras. Gue yang kaga ngarti apa-apaan soal infus baru ini ya cuma bisa pasrah. Dan gue tertidur lagi.
Pukul 06.00, dokter jaga yang sama membangunkan dan menanyakan hal yang sama yang dia tanyakan dua jam yang lalu. Yang gue jawab dengan kalimat yang sama ditambah dengan kata “ngantuk” untuk mendeskripsikan keadaan gue saat itu. Tapi yang berbeda kali ini adalah ekspresi si dokter jaga ini. Sambil memegang pergelangan tangan gue yang biasanya dilakukan untuk mengecek denyut nadi, mukanya berekspresi super aneh sambil pandangannya menerawang ke atas. Kemudian dia menginstruksikan kepada suster untuk “mengguyur” si infus baru tadi ke dalam badan gue. Dan sensasi dingin di tangan gue pun terulang kembali.
Pukul 06.30, dokter spesialis yang menangani penyakit demam berdarah gue selama dua hari ini tiba-tiba datang dengan rambut acak-acakan. Belum mandi kayaknya ini dokter.
“Kamu berasa apa? Lemas? Pusing? Dada kamu berasa apa??”, tanya dokter spesialis ini yang keliatan menyembunyikan paniknya.
“Biasa aja sih, dok. Lemas dan pusing kayak kemarin”, jawab gue tenang.
“Masuk ICU aja ya? Nadi kamu lemah sekali. Takutnya darah kamu sudah menggumpal. Nanti kamu malah syok. Masuk ICU aja ya??”
“Ayo pindahin ini bed-nya! Cabut semua kabel! Kontak ICU”, instruksi si dokter spesialis yang seakan berbicara dengan siapapun staf ruangan kelas dua. Gue yang masih ngantuk dan bingung cuma ngejawab,
“Ya tolong bilangin ke keluarga saya, dok. Ini saya yang telpon”
Belum sempat gue cari kontak dan pencet
“call” di iPhone gue, tiba-tiba gue ngerasa bed gue digeser keluar sambil ada protes dari seorang suster,
“Tunggu dok! Kabel infus pump-nya belum dicopot!”
Gue ngeliat si dokter spesial langsung main tarik bed gue tanpa memperhatikan kabel infus pump yang masih kecolok di steker di tembok. Semakin gue perhatiin, tangan si dokter yang menarik bed gue ternyata gemeteran. Aduh kenapa pula ini.
Beberapa detik kemudian, gue sudah ada di lorong rumah sakit, dengan si dokter spesialis yang mendorong bed gue di bagian kepala tempat tidur. Gue merasa bed gue didorong dengan cepat, yang membuat gue makin pusing melihat plafon yang bergerak kencang. Sambil gue denger si dokter spesialis teriak-teriak entah kepada siapa,
“Ayo cepat! Cepat! Kunci lift mana kunci lift?? ICU dah dikontak belum? Ayo cepat bantu saya dorong!!”
baca selengkapnya...